
Utami Ramadhanti
Januari 2011
sebelum semuanya berderak, memberontak, dan retak...
Utami Ramadhanti
Januari 2011
Terang
Petang
Matang
Takbir datang
Zikir lengang
Kanan kiri perang
Tak tenang
Iman dilelang
Prang!
Dentang
Dendang belalang sumbang
Kembali telentang
Tak pulang
Utami Ramadhanti
Januari 2011
“Ketika logika tak bisa menjelaskannya, mungkin hati bisa menjelaskannya. Atau aku perlu memadukan keduanya, agar kau semakin mengerti…”
-Tami
Ini sudah kesekian kalinya…
Ah, sudah kubilang pada diriku sendiri berulang-ulang, bahkan pada segelintir orang, bahwa aku wanita dibalik tirai senja, cukup mengerti saja. Jangan tanya ada apa dan mengapa! Aku kira mereka mengerti maksudku, tapi ternyata tidak cukup untuk dimengerti.
Takkan ada habis-habisnya jika kita membahas soal perasaan, terutama tentang CINTA. Sampai ke ujung dunia pun, bahkan sampai kau mati pun, cinta akan terus ada dan mengikutimu, bahkan kau sendiri adalah jelmaan dari cinta. Dahsyat sekali bukan persoalan cinta ini? :)
Cinta itu anugerah Tuhan yang paling indah. Pasti kita semua setuju dengan pernyataan ini. Tentu saja, karena cinta itu adalah dariNya dan akan kembali padaNya, bukankah itu berarti bahwa cinta itu suci? Bukankah itu berarti kita harus menjaga cinta dengan baik? Bukankah cinta itu sesuatu yang benar, baik, dan indah? Bukankah itu berarti kita tidak berhak menodainya? Jadi, tidak ada yang salah dengan CINTA, karena cinta akan baik-baik saja selamanya. Jangan pernah menyesal telah merasakan cinta (jatuh cinta) apalagi menyalahkan cinta, bukan cinta yang salah, bisa jadi kita sendiri yang tidak bisa mengelola hati (cinta) dengan baik, terkadang kita buta, mana yang cinta dan mana yang nafsu. Keduanya berbeda tipis sekali. Bisa jadi selama ini kita mencampuradukkan keduanya. ya, atas nama cinta yang dibayangin nafsu belaka.
Hah, menulis ini sebenarnya sedikit membuatku sesak. Tapi, biarkan kali ini hatiku yang merangkai kata, logikaku sedikit mengalah untuk persoalan sakral ini. Kali ini, izinkan aku menceritakan sedikit potongan cinta dalam hidupku :).
Dari rasa suka, kagum, sayang, kemudian CINTA.
Entahlah sekarang perasaanku berada di posisi mana. Mungkin pertengahan antara sayang dan cinta. Aku coba kembali ke perasaan yang lalu, dimana perasaan itu berawal. Mencoba mengoreksi, apakah terselip nafsu di dalamnya. Biarkan aku menjawabnya di dalam hati.
Memendam perasaan itu menyesakkan hati. Aku yakin kau juga pernah merasakannya. Memendam perasaan itu membuatmu menjadi “sakit”. Memendam perasaan itu membuatmu merasa “kalah”. Sadarkah, kau telah dibunuh oleh bom waktu! Waktu memang suatu saat akan mengobati rasa “sakitmu” itu, tapi dia juga menertawakanmu. kali ini aku katakan padamu, jangan pernah mau dikalahkan oleh waktu sedetik pun, kau harus bisa menatap waktu dengan mata elangmu, karena setiap detik, ada makna yang tersimpan.
Jika memendam perasaan membuatmu merasa “kalah” dan “sakit”, lalu kenapa kau tidak mengatakan isi hatimu yang sebenarnya? Atau bagimu hal itu terlihat konyol dan impulsif? Mmm… Tidak bagiku. Karena semua tergantung bagaimana kita menyampaikan dan menyikapinya, tergantung bagaimana kau merangkai katanya, dan tentu tergantung dari niatmu. Ini hanya masalah sederhana.
Kau tahu, aku menjelaskan semua padanya dengan berbagai cara, bertahun-tahun! Aku tidak menuntut agar dia menjadi milikku, aku tidak meminta dia membalas semua caraku dengan cara yang sama, sama sekali TIDAK! Aku hanya ingin dia tahu dan mengerti bahwa aku “ADA”, bahwa aku selama ini berusaha mengerti dan memahaminya. Itu saja, tidak lebih. Sederhana bukan? Aku rasa itu cukup untuk menurunkan tingkat rasa sesak di hati menjadi lega.
Dan sampai akhirnya, klimaks dari segala rasa. Dia mengerti semua. Mengerti apa yang aku rasakan. Menghargai apa yang aku rasakan. Hanya melalui kata-kata sederhana, melalui imajinasi sederhana. Dan itu puncak rasa terlelahku. Dan benar-benar habis kata-kataku untuknya. Akhirnya dia mengerti, walaupun tidak ada perubahan yang berarti. Tapi, dia tetap menghargaiku sebagai seorang wanita. Wanita dibalik tirai senja, yang baginya cukup dimengerti saja tanpa bertanya ada apa dan mengapa.
Aku tidak mengungkapkan perasaanku secara gamblang padanya, tidak. Ah, ayolah kita sudah mulai dewasa. Kita punya cara tersendiri untuk mengungkapkannya dengan baik dan anggun. Aku tidak merasa bahwa hal yang kulakukan adalah sesuatu yang bodoh dan aku tidak merasa menyesal telah melakukannya. Justru akan lebih bodoh rasanya berdiam diri dengan terus memendam perasaan yang menyesakkan hati tanpa ada jalan keluarnya. Aku yakin wanita tegas, dewasa, dan cerdas takkan berdiam diri jika sudah terjerat persoalan hati. Aku tidak pernah menyesal telah memendam rasa itu dan melakukan hal-hal “gila” untuknya. karena cinta itu bukan logika saja, cinta itu juga bukan perasaan saja, cinta itu perpaduan antara logika dan hati (Perasaan). Jadi, tak heran jika kau terkadang melakukan hal “gila” untuk orang yang kau cintai. Itu wajar! Untuk apa disesali, karena memang itu skenario hidupku dan menjadi bab dalam cerita hidupku. Aku bahagia bisa merasakan dan mengalaminya. Bukan cinta namannya jika kau belum melakukan hal “gila” untuknya :)
Akhirnya, aku kembalikan rasa itu padaNya, aku terlalu lelah menggemgamnya sendirian dengan erat, toh rasa ini milikMu dan kembali padaMu. Aku tidak terobsesi bahwa dia kelak menjadi jodohku dengan segala “perjuangan gila” yang telah kulakukan, tidak. Itu hanya upaya kecilku yang belum seberapa untuk menunjukkan padaNya bahwa aku sedang berusaha. Jodoh itu di Tangan Tuhan, namun Tuhan tidak akan mengirimkannya jika kita sendiri hanya berdiam diri.
Wanita mengungkapkan perasaan pada lelaki? Tabu? Tidak! sudah kubilang berulang-ulang jelaskan perasaanmu itu lewat caramu sendiri dengan baik dan anggun! Katakan dengan tegas.
Ya, cinta memang tak harus memiliki. Walaupun cinta memang tak harus memiliki, tapi kau punya hak untuk mengungkapkan perasaanmu. Ungkapkan seperti kau sayang pada orang tua, adik, kakak, temanmu. Ini hanya persoalan sederhana. Kau pasti punya banyak cara untuk mencintai seseorang bukan? Ungkapkanlah, karena cinta itu kebaikan, kebahagiaan, dan keindahan. Sekali lagi, cinta itu suci, kau harus tetap menjaga makna kesucian itu.
Satu hal, jangan mencintai untuk dicintai. Karena itu akan meninggalkan jejak yang tak tertilas. Cintailah Tuhanmu, cintailah dirimu, cintailah semua orang dengan hatimu. Maka cinta akan datang padamu dengan bijaksana dan sederhana. Cintailah untuk mencintai. Agar tidak ada rasa sesak yang tertinggal.
"Aku tidak mengekangmu dalam hatiku, karena itu bukan cinta. Aku hanya membebaskan rasa untuk keluar dari hati dan pikiran, agar ia bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Aku bahagia melihatmu bahagia. Dan itu tidak menyiksaku."
Utami Ramadhanti
Jambi, 10 Januari 2011
11.00 WIB
-Tami
Ada kata-kata yang sering aku utarakan pada seseorang, sering aku berceloteh: “Udah lama ya Kak kita nggak ngobrol.” Atau, “Kak, aku pengen ngobrol banyak sama Kakak.” Ah, semoga kau tak bosan mendengar kata-kata itu. Aku akan terus mengatakannya sampai kita benar-benar bisa merangkai kata bersama.
Bukan hanya sekedar celotehan, tapi memang aku ingin sekali berbincang dengannya. Banyak yang ingin aku sampaikan padanya, banyak yang ingin aku diskusikan dengannya, banyak yang ingin aku tahu darinya. Aku hanya ingin kita berbincang-bincang santai saja, tersadar bahwa aku dan dia tidak pernah berbincang-bincang panjang sebelumnya. Hanya ada kata-kata tegur sapa basi yang sering kudengar dan kukatakan padanya. Tatapan mata tidak cukup untuk menjelaskan semuanya bukan? Walaupun terkadang aku bisa menangkap gerak-gerik tubuhnya, intonasi suaranya yang seakan menjelaskan apa yang ingin dia sampaikan, tapi itu semua masih belum cukup. Bisakah kita menguatkannya dengan bingkai kata-kata? Agar semua menjadi jelas.
Mungkin memang alam belum berkonspirasi dengan tuannya untuk “memepertemukan” aku dan dia. Namun aku masih terus menapaki jejak-jejaknya, walaupun terkadang jejaknya tak berbekas ataupun samar. Lelah? Tentu saja! Tak jarang aku menghapus jejaknya!
Kau tahu, untuk kesekian kalinya aku katakan padamu, bahwa aku hanya ingin berbincang dengannya, sederhana bukan?
“Aku harap ada waktu untuk aku, kau, dan 2 cangkir teh hangat. Sepotong fajar akan menemani kita. Itu saja cukup.”
Aku tidak meminta banyak waktumu, waktuku dan waktumu hanya sebatas dua cangkir teh hangat, tidak lebih. Dua cangkir teh hangat untuk berbincang-bincang, menjelaskan dan memahami apa yang telah kita rasakan selama ini. Sepotong Fajar aku kira cukup indah untuk menemani kita, ia saja malu menatap kita, diam-diam, pelan-pelan, kembali ke peraduannya, enggan menguping pembicaraan kita. Seakan-akan ia cemburu.
Aku tidak akan membiarkanmu menambah satu cangkir teh lagi, karena itu akan memperpanjang perbincangan dan membuatmu mengarang kata-kata. Aku juga tak rela jika secangkir teh itu tidak kau habiskan, kerena aku takut ada kata-kata yang masih kau sembunyikan. Untuk itu, nikmatilah secangkir teh hangat ini dengan rasamu, jangan terburu-buru. Nimatilah.
Ketika Teh dicangkirmu dan dicangkirku sudah mulai dingin dan tinggal setengah, aku berharap kau dan aku tidak bersikap dingin layaknya teh itu, tapi justru tersenyum menghabiskan sisa teh dan mengantarkanku pulang seiring tenggelamnya sang fajar. Saat itu aku yakin, kau telah mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk kita.
“Kita tinggalkan dua cangkir kosong dan fajar yang mulai terlelap, namun kehangatan itu akan terus terasa di hati ini.”
Entah kapan, suatu saat aku ingin berbincang denganmu J
Jatinangor, 19 Desember 2010
13.41 WIB
Utami Ramadhanti
Di bawah rinai hujan
lambaikan tangan
mengejar awan
langkahku enggan
kutarik sampan
berlayar menuju pekan
tak ada ujung sampai rembulan
pegang erat lengan
ntah sampai kapan
kembali berjalan
pelan, mencari kawan
rapuhkan dahan
tuli pada bisik setan
gentarkan angan
Utami Ramadhanti
Jatinangor, 07 Desember 2010
07.20 WIB
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH!
Jangan pernah menyerah mengejar mimpi :)
Kau tatap saja tidak
apalagi menyentuh
bungkam
kau kepal tanganmu
tersengal
angin enggan sampaikan salamku padamu
angin enggan menyentuh jari kelingkingmu
Simfoni alam tak mainkan nadanya
hati kita jauh
langkah kita dekat
aku takkan hapus jejakku, tidak juga jejakmu
berbaliklah, aku masih di sini
berbaliklah, aku tunggu mata elang itu
berbaliklah, satu kata saja
agar alam berkonspirasi
dan kita satu langkah
Utami Ramadhanti
Jatinangor, 05 Desember 2010
21.00 WIB
“Mba…aku lagi sedih.”
“Mba…pengen nangis.”
“Mba…lelah!”
Teringat, selalu saja aku mengganggu Mba dengan kata-kata seperti itu. Karena bagiku, seorang kakak pasti bisa menyejukkan hati adiknya yang lagi gelisah. Dan tentu saja, Mba BISA merangkulku dengan baik. Ini teruntuk Mbaku tersayang, Mba Puspa. Yang selalu mengajakku bermain gelembung sabun di dunia maya kalau suasana hatiku sedang tidak baik. Thanks sist :)
Lagi, jadi kebiasaan. Kalau suasana hati lagi nggak baik, sering kali kedapetan berbisik dan teriak di samping teman baikku “Pengen main gelembung sabun, pengen beli gelembung sabuuuuuuuuuuuuun.” Tak jarang aku mengganti profil picture FB dengan gambar bocah lagi main gelembung sabun, atau mengganti status dengan “pengen main gelembung sabun.” Haha…terkesan nggak penting ya! Btw, selama ini mau beli gelembung sabun yang simple susah nyarinya di mana. Yang ada malah yang model tembak-tembakan, nggak seru ah, atau yang di botol aqua gede yang sering dipamerin di pinggir jalan, nggak seru juga ah. Pengen yang di botol kecil itu lho, hehe. Biar bisa dibawa ke mana-mana. Bocah banget dah :D. Hedeeeeeeh…kok malah curhat ya. Melankolis sekali saya!
Aku bermain gelembung sabun? Mmm…bukan karena masa kecilku dulu kurang bahagia, bukan juga karena aku childish. Aku sering memainkannya waktu kecil. Baik itu dibeli, dibuat dari air sabun, bahkan buat sendiri dari lendir kembang sepatu. It was nice!
Aku bermain gelembung sabun? Ya…karena berbagai alasan. Tentu saja alasan yang membuat kondisi hati saya menjadi tidak baik. Maklum, aku sudah hampir meninggalkan masa remaja dan akan memasuki masa dewasa, banyak sekali hal-hal yang bertambah rumit dan harus dihadapi. Mungkin, menarik nafas dengan berat bisa menggambarkan sedikit beban yang kita emban sekarang ini.
Sampai sekarang gelembung sabunnya belum terbeli, soalnya modelnya nggak sesuai dengan yang aku inginkan, hehe.
Iri liat bocah yang lagi main gelembung sabun. Jika kalian menemui bocah yang lagi main gelembung sabun, coba deh perhatikan mereka dengan seksama. Dengan wajah polosnya, mereka terlihat antusias untuk meniup. Biasanya tiupan pertama gelembungnya belum keluar, karena tiupannya terlalu kuat. Dilanjutin dengan tiupan kedua, biasanya gelembungnya keluar, tapi kecil-kecil seperti busa yang keluar kalau lagi sampoan, karena waktu meniupnya buru-buru, nggak sabaran pengen lihat gelembung sabun yang banyak dan gede-gede. Masih dengan wajah geregetan, mereka mencobanya lagi, kali ini dengan tenang, sabar, dan senyum. Perlahan mereka meniupnya, dan ternyata gelembung sabunnya keluar dengan indah. Tiupan keempat, kelima, dan seterusnya…gelembung sabunnya udah terbang kemana-mana, pecah bak mengerdipkan mata dan membuat orang disekitarnya menaikkan kedua bahu mereka, memicingkan kedua mata mereka, tersenyum, dan tertawa kecil. Kemudian berkata, coba lagi, coba lagi, coba lagi!
Senang sekali rasanya kalau lagi melihat bocah-bocah itu, senang sekali rasanya kalau mengingat masa-masa itu, dan senang sekali rasanya jika bisa memainkannya lagi. Hanya gelembung sabun, gelembung sabun yang sekejap bisa hilang bisa membuatmu senang dan ceria!
Bagiku, gelembung sabun yang bisa hilang sekejap itu, bukan sekedar gelembung sabun lho. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku bisa senang, ceria, atau bahkan bahagia ketika bisa melihat dan memainkannya itu karena keindahan di balik gelembung sabunnya. Ada berbagai dimensi warna di dalamnya, seperti pelangi, ia menari di atas udara, kemudian pecah. Pecahnya juga anggun sekali. Membuatku bedecak kagum, jika melihatnya dengan seksama. Seakan-akan segala kepenatan dibawa terbang gelembung sabun, lalu pecah dengan anggun di udara. Menyenangkan sekali melihatnya!
Gelembung sabun itu seperti kebahagiaan. Sering mendengar kata-kata ini kan? “Kebahagiaan itu sejatinya ada di dalam diri kamu sendiri, maka ciptakanlah.” Ya…seperti ketika kau memainkan gelembung sabun, maka kau juga menciptakan kesenangan, keceriaan, bahkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri dan orang yang ada di sekitarmu :). Bumbu kebahagiaan itu ketenangan, kesabaran, keikhlasan, dan senyum. Bukankah untuk menghasilkan gelembung sabun yang indah, banyak, dan besar kau harus meniupnya dengan tenang, sabar, dan tak jarang kau tersenyum kecil. Apabila gelembung sabunnya masih belum seperti yang kau inginkan kau terus berusaha untuk meniupnya lagi, dan lagi. Ah…disadari atau tidak kau polos sekali waktu itu, ZERO. Ada nilai keikhlasan bukan?
Itulah, mengapa aku suka sekali dengan gelembung sabun. Memberiku luang untuk menikmati kepolosan diri, membawaku sejenak ke alam imajinasi, melupakan sejenak kepenatan dunia, menyadarkanku kembali bahwa HIDUP INI INDAH dan PENUH WARNA, tinggal bagaimana kita menyelaraskan diri dengan alam ini saja, tinggal bagaimana kita memandang semua dengan berbagai dimensi. Ya, hanya dengan bermain gelembung sabun, kau dapat menikmati siapa diri ini :)
"Sebelum niup gelembung sabun, make a wish dulu, liat pemandangan ke depan, lalu tiupkan harapanmu dalam gelembung. Semoga jadi doa yang didengar semesta dan dikabulkan Allah. Amin :)."
-Mba Puspa-
"Kau masih bisa seperti bocah yang tanpa beban!"
Utami Ramadhanti
Jatinangor, 03 Desember 2010
07.41 WIB